Blog Archive

Selasa, 26 Februari 2013

Fellycia Stevie Sugiarto NIM : 11140110037 Kenya Menangis


Fellycia Stevie Sugiarto
NIM : 11140110037
Kenya Menangis
            Bak narkoba menggerogoti tubuh, bak narkoba yang memberi efek kecanduan dan enak rasanya. Begitu lah korupsi. Nikmat sesaat , tapi hasilnya merusak , sungguh merusak.  Sama halnya dengan rokok, sudah tahu racun untuk tubuh, tapi masih berani untuk mencoba.
            Kondisi ironis inilah yang terjadi di Kenya. Sebagian besar masyarakat Kenya hidup di dalam belengu kemiskinan. Namun korupsi terus menggerogoti negara ini. Diperkirakan pada tahun 2002 sampai dengan 2005 di atas 1 juta triliun dolar hilang karena korupsi.
            Pada pemilihan kembali Presiden Kibaki di tahun 2007, sebanyak lebih dari 1100 orang terbunuh, dan lebih dari 600.000 orang dipindah paksa. Sungguh ironis.
            Di saat petinggi negara asik duduk minum teh bersama, masyarakat Kenya sibuk saling membunuh. Inilah yang dilihat dan diperjuangkan oleh seorang Boniface Mwangi. Seorang aktifis yang memiliki pemikiran radikal untuk tidak menyerah pada keadaan dan kehancuran di Kenya.Dia bergabung dalam  organisasi Picha Mtaani dengan kampanye revolusi Ballot. Pria berusia 29 tahun ini menentang adanya korupsi di politik Kenya.
“ So we’re using art to tell them we know who you are. We know you guys are thugs and we are fighting back to reclaim our country.”- Boniface Mwangi
            Nairobi adalah kota terbesar di Kenya. Bersama timnya Boniface mempersiapkan gebrakan ilegal yang merupakan aksi pertamanya untuk kontes politik korupsi. Lewat seni mereka membangkitkan pikiran dan mindset masyarakat Kenya untuk berjuang bersama memerangi ketidakadilan yang di terima rakyat Kenya. Grafitti. Sebuah lukisan di dinding berisi jeritan dan suara rakyat. Boniface mewakili suara seluruh rakyat yang terbungkam oleh ketakutan. Mereka marah , protes akan ketidakadilan , tapi terlalu pengecut untuk menyampaikan aspirasi mereka. Sosok Boniface muncul sebagai pahlawan.
            Bekerja dengan seniman visual dan media sosial ahli, Boniface menggunakan kombinasi in-your-face aktivisme untuk membantu Kenya menyadari kekuatan dari suara mereka dalam mengubah masa depan negara mereka.
            Aksi mereka dilakukan pada malam hari ketika tidak seorangpun yang melihat proses pembuatan Grafiti tersebut. Sehingga keesokan harinya masyarakat bahkan polisi sekalipun dapat melihat aspirasi mereka yang tertuangkan di dalam seni grafiti.
            Bukan hal yang mudah melakukan tindakan yang sungguh radikal ini. Penuh keberanian dan motivasi yang kuat. Boniface dan timnya harus keluar dari zona aman mereka yang cukup memacu adrenalin.
            Pro dan Kontra bermunculan saat masyarakat Kenya membaca tulisan di grafitti tersebut. Sebagian yang kontra merasa tindakan ini dapat menyulut perpecahan di Kenya. Tak lama kemudian, berselang satu minggu para polisi mulai mencari orang-orang yang bisa bertanggung jawab terhadap aksi ini. Polisi menawarkan kerja sama dengan Boniface dan tim nya. Mereka menjanjikan uang, Namun Boniface dan timnya menolak. Mereka takut tawaran itu bisa menjadi senjata makan tuan yang mengancam mereka.
            Boniface dipanggil oleh ke kantor polisi. Dia mengumpulkan masa untuk datang bersama-sama memenuhi panggilan kepolisian. Hal ini agar polisi tidak dapat menangkap satu orang aja. Dan berhasil, Boniface dibebaskan tanpa tuntutan apapun.
Ironisnya lagi, fakta di Kepolisian Kenya, Polisi Kenya sangat selektif dalam menjatuhkan hukuman. Mereka akan berpihak kepada yang kaya bahkan menawarkan perlindungan, dan menindas yang lemah dan miskin.
            Background Boniface sebelumnya adalah seorang jurnalis foto. Partner kerjanya Elijah Kanyi. Mereka memfoto sebuah tempat di Mathare, sebuah tempat kumuh yang menjadi korban kekerasan di pemilihan Presiden Desember  tahun 2007. Hasil jepretan mereka telah berhasil memenangkan beberapa penghargaan.
            Mwai Kibaki dinobatkan sebagai President setelah pemilihan di tahun 2007. Sontak kejadian ini menuai kontra dari pihak oposisi dan memicu kekerasan etnis. Terdapat banyak korban kekerasan pada saat itu, dan Boniface mengabadikan kejadian tersebut.
            Inilah tantangan dari profesi Boniface. Mengalahkan ketakutan dalam dirinya untuk melaksanakan tugas. Walaupun taku, Boniface tetap pergi dan memberikan informasi kepada khalayak agar mereka yang di luar sana mengetahui apa yang sedang terjadi lewat foto-foto Boniface.ICC (International Criminal Court) menyelidiki peran politisi teratas yang dimainkan dalam memicu kekerasan. Politisi dituduh menghasut konflik suku dan mempersenjatai milisi dan pendanaan.
            Dari pekerjaan yang digeluti Boniface, banyak tekanan yang dia alami. Dia harus melihat dan menyaksikan bunuh diri,penyiksaan,ketidak adilan. Saat ia kembali kepada pekerjaan normalnya, dia harus ditugaskan untuk menutupi kesalahan para penjahat. Dan Boniface sangat marah. Banyak hal yang dia pikirkan tentang kejahatan di luar sana. Maka,daripada dia harus membunuh dirinya sendiri akhirnya Boniface memutuskan untuk quit dari pekerjaannya.
            Boniface mencoba Picha Mtaani , yaitu semacam aksi pameran di jalanan. Yang dilakukan adalah memajang foto-foto kekerasan yang terjadi di Kenya dan memajangnya di jalanan.  Sjak 2009, Boniface telah melakukan aksi ini di 20 kota di Kenya . Lebih dari 700.000 orang telah melihat Picha Mtaani ini. Hal ini banyak menuai kontra karena banyak masyarakat yang merasa terhantui dengan kekerasan yang mereka alami di Kenya.
            Namun ada satu keyakinan Boniface bahwa apabila kesedihan itu diungkap maka rakyat Kenya akan bangkit dan menuntut kembali keadilan untuk mereka. Karena Kenya harus “sembuh” ...
            Boniface dan timnya mulai mempersiapkan lagi grafitti. Cara yang radikal untuk berkampanye. Ketakutan cukup meliputi Boniface dan timnya. Namun akhirnya grafiti itu dihapus oleh pemerintah.
            Sekitar 85 KM dari Nairibi tepatnya di kota Maivasha , Boniface menggelar pameran kembali di kota ini. Namun. Pemerintah memintanya untuk menghentikan pamerannya foto-foto yang dianggap berlebihan.
            Kembali ke Nairobi, tak lelah Boniface menyiapkan materi untuk kampanye berikutnya. Yaitu 49 peti mati yang akan dibawa ke parlemen. Pagi hari Boniface bersama dengan orang-orang pergi menuju gedung parlemen. Dia ingin menunjukkan bahwa aksinya bukan untuk menunjukkan kebencian melainkan perdamaian.
            Tak lama waktu berselang. Hanya sekitar 15 menit saja, semua peti dibersihkan oleh aparat keamanan. Namun sosok Boniface tetap tidak mengenal kata menyerah. -flystv
             

1 komentar:

  1. I Felly, I was looking for some article and randomly google lead me here..
    anyway, I am impressed with your article
    so that, perhaps we can have some conversation..
    do you have facebook account?
    or heres my email: bonaventura_t@yahoo.co.id
    you can also search on fb with that
    mail me anytime, I'll waiting
    keep it up!

    BalasHapus