Fellycia Stevie Sugiarto
NIM : 11140110037
Kenya
Menangis
Bak narkoba menggerogoti tubuh, bak
narkoba yang memberi efek kecanduan dan enak rasanya. Begitu lah korupsi.
Nikmat sesaat , tapi hasilnya merusak , sungguh merusak. Sama halnya dengan rokok, sudah tahu racun
untuk tubuh, tapi masih berani untuk mencoba.
Kondisi ironis inilah yang terjadi
di Kenya. Sebagian besar masyarakat Kenya hidup di dalam belengu kemiskinan.
Namun korupsi terus menggerogoti negara ini. Diperkirakan pada tahun 2002
sampai dengan 2005 di atas 1 juta triliun dolar hilang karena korupsi.
Pada pemilihan kembali Presiden
Kibaki di tahun 2007, sebanyak lebih dari 1100 orang terbunuh, dan lebih dari
600.000 orang dipindah paksa. Sungguh ironis.
Di saat petinggi negara asik duduk
minum teh bersama, masyarakat Kenya sibuk saling membunuh. Inilah yang dilihat
dan diperjuangkan oleh seorang Boniface Mwangi. Seorang aktifis yang memiliki
pemikiran radikal untuk tidak menyerah pada keadaan dan kehancuran di Kenya.Dia
bergabung dalam organisasi Picha Mtaani
dengan kampanye revolusi Ballot. Pria berusia 29 tahun ini menentang adanya
korupsi di politik Kenya.
“ So we’re using art to tell them
we know who you are. We know you guys are thugs and we are fighting back to
reclaim our country.”- Boniface Mwangi
Nairobi adalah kota terbesar di
Kenya. Bersama timnya Boniface mempersiapkan gebrakan ilegal yang merupakan
aksi pertamanya untuk kontes politik korupsi. Lewat seni mereka membangkitkan
pikiran dan mindset masyarakat Kenya untuk berjuang bersama memerangi
ketidakadilan yang di terima rakyat Kenya. Grafitti. Sebuah lukisan di dinding
berisi jeritan dan suara rakyat. Boniface mewakili suara seluruh rakyat yang
terbungkam oleh ketakutan. Mereka marah , protes akan ketidakadilan , tapi
terlalu pengecut untuk menyampaikan aspirasi mereka. Sosok Boniface muncul
sebagai pahlawan.
Bekerja dengan seniman visual dan
media sosial ahli, Boniface menggunakan kombinasi in-your-face aktivisme untuk membantu Kenya menyadari kekuatan dari
suara mereka dalam mengubah masa depan negara mereka.
Aksi mereka dilakukan pada malam
hari ketika tidak seorangpun yang melihat proses pembuatan Grafiti tersebut.
Sehingga keesokan harinya masyarakat bahkan polisi sekalipun dapat melihat
aspirasi mereka yang tertuangkan di dalam seni grafiti.
Bukan hal yang mudah melakukan
tindakan yang sungguh radikal ini. Penuh keberanian dan motivasi yang kuat.
Boniface dan timnya harus keluar dari zona aman mereka yang cukup memacu
adrenalin.
Pro dan Kontra bermunculan saat
masyarakat Kenya membaca tulisan di grafitti tersebut. Sebagian yang kontra
merasa tindakan ini dapat menyulut perpecahan di Kenya. Tak lama kemudian,
berselang satu minggu para polisi mulai mencari orang-orang yang bisa
bertanggung jawab terhadap aksi ini. Polisi menawarkan kerja sama dengan
Boniface dan tim nya. Mereka menjanjikan uang, Namun Boniface dan timnya
menolak. Mereka takut tawaran itu bisa menjadi senjata makan tuan yang
mengancam mereka.
Boniface dipanggil oleh ke kantor
polisi. Dia mengumpulkan masa untuk datang bersama-sama memenuhi panggilan kepolisian.
Hal ini agar polisi tidak dapat menangkap satu orang aja. Dan berhasil,
Boniface dibebaskan tanpa tuntutan apapun.
Ironisnya
lagi, fakta di Kepolisian Kenya, Polisi Kenya sangat selektif dalam menjatuhkan
hukuman. Mereka akan berpihak kepada yang kaya bahkan menawarkan perlindungan,
dan menindas yang lemah dan miskin.
Background
Boniface
sebelumnya adalah seorang jurnalis foto. Partner kerjanya Elijah Kanyi. Mereka
memfoto sebuah tempat di Mathare, sebuah tempat kumuh yang menjadi korban
kekerasan di pemilihan Presiden Desember tahun 2007. Hasil jepretan mereka telah
berhasil memenangkan beberapa penghargaan.
Mwai Kibaki dinobatkan sebagai
President setelah pemilihan di tahun 2007. Sontak kejadian ini menuai kontra
dari pihak oposisi dan memicu kekerasan etnis. Terdapat banyak korban kekerasan
pada saat itu, dan Boniface mengabadikan kejadian tersebut.
Inilah tantangan dari profesi
Boniface. Mengalahkan ketakutan dalam dirinya untuk melaksanakan tugas. Walaupun
taku, Boniface tetap pergi dan memberikan informasi kepada khalayak agar mereka
yang di luar sana mengetahui apa yang sedang terjadi lewat foto-foto Boniface.ICC (International Criminal Court) menyelidiki
peran politisi teratas yang dimainkan dalam memicu kekerasan. Politisi dituduh
menghasut konflik suku dan mempersenjatai milisi dan pendanaan.
Dari pekerjaan yang digeluti
Boniface, banyak tekanan yang dia alami. Dia harus melihat dan menyaksikan
bunuh diri,penyiksaan,ketidak adilan. Saat ia kembali kepada pekerjaan
normalnya, dia harus ditugaskan untuk menutupi kesalahan para penjahat. Dan
Boniface sangat marah. Banyak hal yang dia pikirkan tentang kejahatan di luar sana.
Maka,daripada dia harus membunuh dirinya sendiri akhirnya Boniface memutuskan
untuk quit dari pekerjaannya.
Boniface mencoba Picha Mtaani ,
yaitu semacam aksi pameran di jalanan. Yang dilakukan adalah memajang foto-foto
kekerasan yang terjadi di Kenya dan memajangnya di jalanan. Sjak 2009, Boniface telah melakukan aksi ini
di 20 kota di Kenya . Lebih dari 700.000 orang telah melihat Picha Mtaani ini.
Hal ini banyak menuai kontra karena banyak masyarakat yang merasa terhantui
dengan kekerasan yang mereka alami di Kenya.
Namun ada satu keyakinan Boniface
bahwa apabila kesedihan itu diungkap maka rakyat Kenya akan bangkit dan
menuntut kembali keadilan untuk mereka. Karena Kenya harus “sembuh” ...
Boniface dan timnya mulai
mempersiapkan lagi grafitti. Cara yang radikal untuk berkampanye. Ketakutan
cukup meliputi Boniface dan timnya. Namun akhirnya grafiti itu dihapus oleh
pemerintah.
Sekitar 85 KM dari Nairibi tepatnya
di kota Maivasha , Boniface menggelar pameran kembali di kota ini. Namun. Pemerintah
memintanya untuk menghentikan pamerannya foto-foto yang dianggap berlebihan.
Kembali ke Nairobi, tak lelah
Boniface menyiapkan materi untuk kampanye berikutnya. Yaitu 49 peti mati yang
akan dibawa ke parlemen. Pagi hari Boniface bersama dengan orang-orang pergi
menuju gedung parlemen. Dia ingin menunjukkan bahwa aksinya bukan untuk
menunjukkan kebencian melainkan perdamaian.
Tak lama waktu berselang. Hanya sekitar
15 menit saja, semua peti dibersihkan oleh aparat keamanan. Namun sosok
Boniface tetap tidak mengenal kata menyerah. -flystv


I Felly, I was looking for some article and randomly google lead me here..
BalasHapusanyway, I am impressed with your article
so that, perhaps we can have some conversation..
do you have facebook account?
or heres my email: bonaventura_t@yahoo.co.id
you can also search on fb with that
mail me anytime, I'll waiting
keep it up!