Fellycia Stevie Sugiarto/11140110037
Kisah Si Tukang Parkir
“Brakkk ... !”
“Tolong...........!
Tolong.....!”
Pria paruh baya terlihat tergeletak tak berdaya dengan darah yang
mengalir dari tubuhnya. Kondisinya tak berdaya, namun dia masih tampak setengah
sadar sambil terdengar rintihannya sekarat.
Jalanan Mangga Besar Jakarta sontak tersendat karena peristiwa tabrak
lari siang itu.
Korban langsung dilarikan ke rumah sakit Husada, rumah sakit terdekat.
Kondisinya luka parah. Dan seluruh tulang rusuk dan tulang belakangnya patah.
“Kejadiannya itu tahun 2001.
Wa waktu itu sekarat. Hampir mati. Rasanya tangan,kaki,badan,sudah terpisah
semua.Nafas aja susah. Satu-satu. Tapi puji Tuhan lah wa selamat.”
Selalu menjadi pandangan yang menarik perhatian saya, ketika melewati
deretan ruko Gading Serpong. Sosok
tinggi semampai, kurus, berkulit coklat terpanggang sinar matahari, dan mata
sipit. Ya saya yakin benar lelaki ini adalah orang etnis tionghoa. Dia tak bisa
berjalan sempurna,jangankan berjalan, bahkan untuk berdiri saja susah. Tubuhnya
terlihat lunglai dan seperti mau jatuh ke belakang. Dengan tongkat dia
menyadarkan tumpuan untuk berdiri dan dengan lapisan pan yang dililit di
sekeliling perut hingga dadanya.
Pagi-pagi benar di saat
tak banyak mobil lalu lalang, dia sudah berdiri di pinggir jalan untuk sekedar
melambai tangan bak tukang parkir.
“trus.. truss.. kanan..ke
kanan sedikit...” teriaknya dengan suara yang
parau.
Bahkan tak jarang hujan-hujan pun, dia masih berdiri disana, dengan modal
plastik di kepalanya untuk berlindung dari hujan.Pemandangan ini cukup mengiris
hati. Hanya satu,dua orang terlihat memberinya sedikit uang.
Minggu pagi, di gereja
GKI Penabur Gading Serpong, biasa tempat saya dan keluarga pergi beribadah.
Pagi ini untuk ke dua kalinya saya melihat sosok pria ini duduk di kursi roda
dan ikut bersama-sama untuk beribadah. Kali ini saya memberanikan diri untuk
berkenalan dan berbincang lebih lanjut dengan beliau.
Tseng A Liong. Pria
berumur 58 tahun. Panggil saja koh Aliong. Koh Aliong terkenal sebagai penjual
kwetiau goreng yang enak di Mangga Besar. Tokonya selalu ramai dan jarang
sekali sepi. Tak jarang, orang etnis tionghoa maupun pribumi menggemari masakan
kwetiaw koh Aliong. Dia hanya punya satu istri dan satu anak perempuan. Perjalanan
hidupnya cukup tragis.
Sejak peristiwa tabrak
lari yang menimpanya di tahun 2001, dia sudah tak sanggup lagi berdiri lama
untuk memasak kwetiau. Dia sibuk mencari terapi dan dokter orthopedi untuk
memperbaiki tulangnya agar sanggup menopang tubuhnya seperti sedia kala, Namun
hasilnya nihil. Bahkan dia sudah menghabiskan banyak uang untuk biaya berobat.
Koh Aliong menjadi
tumpuan dari usaha rumah makannya. Sejak dia tertimpa musibah, keadaan rumah
makan semakin tidak karuan. Sang istri tak sanggup mengurusnya. Tragisnya sang
istri nekat gantung diri di toko miliknya sendiri setelah stres berat melihat
koh Aliong yang tak kunjung sembuh.
“Sampai hari ini tulang wa
ngilu bukan main kalau malam.Cuma bisa wa usap-usap balsam.” Koh Aliong sambil menepuk ringan punggung
belakangnya.
Sudah jatuh tertimpa
tangga pula, setelah usahanya hancur dan kehilangan istrinya, koh Aliong harus
menerima kenyataan anak semata wayangnya meninggalkannya pulang ke Medan
bersama suaminya. Jadilah Koh Aliong sebatang kara tanpa ada yang mengurus.
Dengan harta seadanya,
yaitu sisa-sisa uang di tabungannya, di tahun 2004 koh Aliong pindah ke Gading
Serpong, tempat dimana dia jauh dari pengalaman pahitnya.
“ Wa kesini ngikut temen
kecil wa yang kerja di lapak besi punya orang cina medan juga sama kayak wa.Kerjanya
cuma jagain tempat lapak aja. Yaa.. sama-sama dari satu kampung,jadi wa
dibantu.”
Koh Aliong sempat tinggal di lapak besi yang berada di Legok sekitar satu
tahun, tapi keadaannya menyusahkan orang sekitar, karena dia tidak bisa mandiri
mengerjakan apa yang menjadi kebutuhannya.
“Wa sadarlah wa gak bisa
bergantung sama orang terus, makanya wa disini sekarang.”
Seperti kehilangan semua harta yang dimilikinya. Koh Aliong berusaha
mensyukuri segala berkat yang masih bisa dia peroleh. Seorang nasrani ini
belajar dari tokoh Ayub dalam alkitab, yang kehilangan seluruh hartanya dan
orang-orang yang dia cintai bahkan Ayub terkena penyakit. Namun Tuhan memiliki
maksud dan rencana untuk kehidupan Ayub, inilah yang diimani koh Aliong.
Menghidupi dirinya sendiri dengan menjadi tukang parkir. Masih bangun
setiap pagi dan bisa menghirup udara pagi adalah rezeki yang luar biasa bagi
koh Aliong. flystv


fel, gue tau nih orangnya, tapi baru tau ceritanya skrg :(
BalasHapushuhu iya sithaaa......apa kabar sithaaaa ??? :D
BalasHapuswahh sis...bener2 mengilhami banyak orang yah...walaupun keadaan membuat dia seperti itu,tpi dia tidak pernah putus asa seperti yg dilakukan istrinya...seperti di dunia ini,banyak banget masalah yg Tuhan berikan ke kita,tapi sebenarnya tidak ada yg melampaui kekuatan kita,right?keepsmile sista!^^
BalasHapuscerita yg bgs
BalasHapus